Rabu, 21 April 2010
Hobinya uniang
Uniang selalu menyempatkan akhir pekannya untuk merawat tanaman hiasnya. Padahal lahan perkarangan uniang tidaklah luas. Untuk hal ini, gw salut dengan beliau, Allah memberikannya kelebihan untuk merawat tumbuh-tumbuhan. Kalo gw, biasanya pohon yang gw tanam suka mati, he45. Menjadikan gw termasuk golongan penikmat hijau tapi gak bisa menghadirkannya… Setidaknya gw selalu berdoa agar bumi ini tetap hijau.
Dan yang terpenting tetap peduli terhadap lingkungan, tidak buang sampah sembarangan.
Jaga sungai kita, jaga lingkungan kita, Jaga bumi kita, Let’s go green..
Dan ALLAH telah meratakan bumi untuk makhluk-(Nya). Di bumi itu ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang. Dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
(Ar-Rahman: 10-13)
Senin, 12 April 2010
COVER
Ada istilah yang sering didengar yaitu
Kadang kala penampilan dari desain buku berbeda dengan isi didalamnya. Gw pernah kecewa membeli sebuah buku yang covernya menarik, simple dan elegan menurut gw. Judul buku itu pun menarik, memancing gw untuk membelinya. Oke, mungkin buku itu memang bagus, tapi gw sulit kali mencerna dan akhirnya hingga kini gw belum meng-khatamkannya.
Kasus selanjutnya, gw meminjam buku punya murabbi gw yang covernya biasa-biasa aja. Berwarna biru dan menurut gw desainnya terlalu sederhana dan cenderung tidak menarik. SubhanALLAH, ketika membaca buku ini, sejak bab pertama sudah membuat gw terhanyut akan bahasanya. Dan gak heran kalo gw cepat menamatkan membaca buku ini.
Kedua buku yang gw maksudaan itu sama-sama bertujuan untuk menambahkan nilai ruhiyah yang muaranya pengaplikasian dalam kehidupan sehari-hari. Kedua buku itu sebenarnya berisi pesan-pesan spiritual dan motivasi untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Itu yang gw tangkap semula dari resensi di cover belakang buku.
Dari kejadian ini, kadang-kala isi dari buku belum tentu sebagus covernya atau dengan kata lain isi dari buku juga belum tentu sejelek covernya.
Begitupun manusia.
Pernah pada suatu hari, gw naik angkutan umum menuju daerah tarandam. Biasanya, bus-bus kota atau angkutan umum di daerah Padang selalu up-date dengan lagu-lagu terkini, mungkin itu wajar, but worst tidak jarang juga diputarkan music ajep-ajep dengan speaker menggelegar luar biasa (lebay…), menjadikan bus kota atau angkot bukan tempat yang tepat untuk mencari ketenangan. Mungkin tidak seluruhnya, tapi sebagian besar memang iya.
Di hari itu, gw justru naik angkot yang berbeda, di awal gw naik, shalawat-shalawat yang diputar oleh sang supir, selanjutnya beralih ke lagu-lagu rohani dari band-band terkini. Hampir ke tempat tujuan, berputar nasyid haraki. Dan volumenya, tidak kecil tidak juga memekakkan telinga. Gw semakin penasaran sama pak supir karena memang tak jelas terlihat dari bangku penumpang. Bagi gw, ini fenomena yang berbeda dengan kenyataan yang sering gw jalani. Saat membayar, gw mengamati pak supirnya, dan ternyata pak supirnya bukan bapak-bapak, berumur sekitar 20-30 tahun, berambut gondrong, wajah keras terkesan sangar (mungkin karena hidupnya memang keras), dan cenderung mirip preman.
Kasus selanjutnya di angkot Bukittinggi saat masa gw KKN. GW dan teman-teman pergi ke Bukittinggi yang tidak begitu jauh letaknya dari lokasi KKN gw, sekitar setengah jam dari Baso. Saat itu kami berniat untuk berbelanja berbagai macam keperluan sekaligus jalan-jalan (refreshing) ke Jam Gadang. Saat ingin pulang, di dalam angkot menuju aur (nama pasar dan terminal di Bukittinggi) ada seorang ibu duduk di sebelah teman gw mengajak ngobrol. Ibu tersebut sangat ramah. Setelah ibu itu turun, teman gw yang duduk di sebelah ibu tadi tersadar Hp-nya sudah tidak ada. Sebelumnya dia masih menggunakan Hp itu di dalam angkot dan memasukkannya kembali ke dalam kantong. Memang situasi dalam angkot sangat sesak sehingga teman gw tidak sadar saat Hp nya diambil.
Itu mungkin sedikit dari kejadian-kejadian yang gw alami. Kita memang tidak bisa langsung menilai orang lain hanya dari penampilannya saja. Tidak selamanya penampilan dan tutur bahasa berbanding lurus dengan sifat hati manusia..
terkadang hal yang kita fikirkan baik ternyata belum tentu itu baik dan kadangkala hal yang kita fikirkan buruk belum tentu itu buruk. Wallahualam..
Senin, 29 Maret 2010
Sunset in taplau
Banyak cara untuk menambah kesyukuran. Salah satunya dengan melihat kebesaran-NYA. 24 Maret 2010, gw berencana ke studio foto untuk menjemput foto. Mengingat lokasi studio tidak jauh dari taplau (=pantai padang), rencana gw bertambah , pengen mengabadikan sunset dengan lensa kamera. Aneh memang, hampir 4 tahun gw di Padang, tapi gak pernah sempat melihat sunset dari taplau. Selama ini gw menikmati sunset yang indah dari kampus gw yang letaknya di atas bukit or kalo nggak dari atas kos gw yang lokasinya masih dekat kampus. Kalupun ke taplau , tidak pernah sampai sore.
Dalam’ proyek’ sunset ini gw melibatkan sahabat gw, putri namanya. Gw sempat khawatir ketinggalan sunset nya karena berangkat dari kampus jam 5 kurang Waktu Limau Manis, ditambah lagi ternyata ada masalah untuk mencetak foto di Studio tersebut. Urusan di Studio Foto selesai, gw dan putrid bersegera ke Taplau. Jam menunjukkan pukul 6 lebih. Dari arah jalan, cahaya kemerahan sudah Nampak.
Sampai di lokasi, SUBHANALLAH… Keren!!! Gw kayak orang norak gak pernah liat sunset. Padahal menurut referensi beberapa sumber, taplau itu biasa aja, masih ada yang lebih, tapi bagi gw yang ini aja sudah buat gw kagum, dan kesyukuran gw bertambah, sadar karena mata yang diciptakanNYA, gw bisa melihat moment ini.
Dan inilah yang terekam kamera..
Jumat, 26 Maret 2010
scenery..
Ada moment-moment khusus kami (=penghuni pondokan putri melati) ke atas kosan memandang-mandang. Kali ini pemandangannya adalah Pelangi yang muncul ba’da hujan dan sunset..
Alhamdulillah, pemandangan tersebut sempat diabadikan.. Walaupun dengan kamera Hp, itu pun boleh minjem.. Tapi, bolehlah....
Sabtu, 06 Maret 2010
Bertemu Apak
ALHAMDULILLAH
Tapi itu hanya sedikit bagian dari yang ingin gw ceritakan tentang hari ini. Hari ini kampus gw mengadakan wisuda dan untuk wisuda periode ini gw berencana untuk tidak hadir karena berbenturan dengan agenda yang lain. Tapi ternyata di cancel dan gw berencana untuk bersemedi di kos untuk baca-baca buku yang berhubungan dengan penelitian (seperti bukan diri sendiri, kalo celok ada pasti dia takjub), jujur gw malas melihat wisuda..
Tiba-tiba Hp gw berbunyi dan nomor yang tertera di layar Hp tidak familiar rasanya.. Startled ketika sadar suara yang di seberang Hp adalah Apak (=Bapak) tempat KKN.
“Nisa, ko apak Salo”
Apak bilang kalo dia di Padang sekarang melihat wisuda keponakannya. Suara apak membuat gw taragak ingin ketemu.
Gw segera ganti kostum dan bersiap-siap menuju audit. Sebelumnya gw sempat sms teman-teman KKN yang lain memberi kabar kalo Apak ada di Audit.
Tiba di Audit, seperti Wisuda yang sudah-sudah, suasananya ramai, panas dan hilir mudik orang berjualan. Dari mahasiswa hingga penduduk setempat. Dari jualan bunga hingga makanan, bahkan gw perhatikan ternyata ada juga yang jualan baju dan jilbab. Berhubung cuaca semakin panas, gw memutuskan untuk berteduh, sendirian, karena teman gw belum datang.
Gw coba menghubungi apak ke nomor Hp nya. Dan gw diceramahin operator. Jelas aja, ternyata pulsa gw sudah habis. Kemana harus cari pulsa sekarang? Dari sekian banyak penjual ternyata gak ada yang jualan pulsa. Tiba-tiba muncullah adek junior yang hilir mudik jualan minuman. Gw minta tolong untuk menghubungi temannya yang jualan pulsa. Sekitar Lima belas menit kemudian akhirnya gw punya pulsa.
Masalah baru pun muncul. Jaringan bermasalah. Selalu seperti ini ketika wisuda, sinyal bermasalah. Hilang-timbul.
Bagaimana caranya bisa ketemu apak?
Gak lama datang sms dari sahabat gw, Dani, menanyakan posisi gw. Ingin membalas, sinyal bermasalah lagi sehingga sms gw gagal terus. Muncullah penolong kedua. Teman gw yang lagi berfoto-foto dengan akhwat yang lainnya sembari menunggu wisudawati. Gak menyia-nyiakan kesempatan, gw minta tolong untuk membalas sms Dani, karena nomor nya beda operator, jadi peluang untuk sms terkirim lebih besar.
Akhirnya Dani datang.. Gw punya teman sekarang. Kembali ke niat awal pergi ke audit untuk bertemu Apak. Gw ceritakan ke Dani dan dia mengajak untuk mencari apak tanpa Hp. Seperti orang dulu kalo mau ketemuan katanya. Berkeliling kami mencari, gw cari apak, Dani cari kakak BPnya yang wisuda. Nihil. Memang susah ternyata tanpa sinyal. Orang begitu ramai. Mencari satu orang sama seperti mencari jarum di tumpukan benang.. oops, gw salah, mencari jarum di tumpukan jerami istilahnya.
Istirahatlah kami. Ketika bertemu dengan teman PHORENSIX lainnya, membuat gw sempat lupa untuk mencari apak. Gw dan Dani mengamati baju-baju kebaya orang, siapa tau bisa menjadi inspirasi untuk model kebaya yang akan kami gunakan nantinya pas wisuda, he45.
Tiba-tiba Hp gw berbunyi. Dari Apak. Ternyata sinyal timbul kembali. Beliau menanyakan posisi gw, gw jelaskan, beliau tidak mengerti, Berbaliklah gw menanyakan posisi dia sambil celingak-celinguk mencari bapak-bapak yang terlihat sedang menelefon.
AlhamduliLLAH, I found him. How lucky I am.
Gw segera pamit ke Dani untuk bertemu Apak. Apak yang suka kami (=anak-anak KKN) buat repot . Orang yang sudah seperti bapak gw sendiri.
Setelah salim tangannya, kami pun bercerita. Melepas taragak istilahnya. Karena gw belum pernah berkunjung kembali ke tempat KKN setelah KKN selesai. Sayangnya Ibu dan Ayu (Istri dan anak Apak) tidak ikut ke Padang.
Apak berkomentar melihat badan gw yang begitu kurus katanya. Jadi malu. Beliau menyuruh gw untuk banyak makan. Bahkan beliau menyarankan makan obat cina untuk menggemukkan badan. Gw Cuma bisa senyum-senyum. Apak benar, gw kurus sekarang. Sebenarnya sih dari dulu, tapi pada saat KKN nafsu makan gw besar, di samping atmosfer tempat KKN gw yang dingin membuat nafsu makan bertambah, di saat KKN gw sering refreshing, jauh dari urusan kuliah.. Kalo dipikir-pikir, masa-masa KKN lah masa-masa gw paling santai, main-main, keliling nagari dengan sepeda, selain mengerjakan program untuk nagari tentunya. Bukan berarti gw gak suka kuliah. Gw suka kok kuliah. Yang gw gak suka itu Ujiannya, he45.
Cukup lama gw ngobrol-ngobrol dengan Apak. Bahkan gw sempat juga menanyakan kabar Nero (Anjing Apak), Manohara dan Limbad (Kelinci Ayu).
Terlihat indikasi bahwa wisudawan sudah keluar ruangan. Apak pun mencari keponakannya, gw pun pamit untuk kembali ke teman-teman gw karena Dani sudah menelepon.
Surprised kedua, ternyata banyak sekali senior yang wisuda, dari yang satu fakultas, hingga beda fakultas. Gw pun gak ketinggalan untuk mengucapkan selamat dan juga mengisi memori kamera mereka tentunya.
Rasanya senang, gara-gara Apak, gw akhirnya ke audit dan melihat orang wisuda, membuat gw semangat lagi untuk semangat penelitian kalo gw mau seperti mereka yang sudah wisuda.
Dan kegiatan di Audit gw akhiri dengan membeli es-krim bareng teman gw sebelum pulang. Jadi senang lagi. Walaupun gw gak jadi semedi di kos untuk baca patofisiologi, farmakologi, atau buku-buku lainnya, tapi gw dapat motivasi lagi hari ini.
Rabu, 03 Maret 2010
kisah Labor : Suara
Begini ceritanya..
Pagi itu, sekitar jam 11 (masih pagikah itu?), gw menemani sahabat gw mengerjakan penelitian dengan alat spektrofotometer di laboratorium Farmakologi. Sudah lama gw dengar kabar angin kalau labor itu ada “penghuninya”. Bagi gw sebenarnya itu wajar karena dunia ini isinya bukan cuma manusia.
Laboratorium Farmakologi letaknya di lantai 2. Memiliki 5 ruang. Ruang biopac, ruang analis, ruang assisten, ruang spektro dan ruang praktikum. Di pojok ruangan praktikum terdapat kulkas dan torso (alat peraga) manusia dan organ. Istimewanya dari laboratorium ini yaitu aromanya. Karena disinilah dilakukan uji percobaan terhadap hewan, seperti mencit dan tikus.
Di pagi itu kami hanya berdua dalam ruangan itu. Sepi.. Sunyi.. Yang terdengar hanya suara gw dan sahabat teman gw tentunya. Sahabat gw bekerja dengan spektro, gw memutuskan untuk mengetik dengan laptop sahabat gw itu.
Terdengar suara kursi diseret dari arah belakang gw. Kaget. Gw menoleh ke belakang tapi gak ada apa-apa. Tiba-tiba suara kursi diseret lebih kencang dari arah ruang biopac. Gw berpositif thinking kalo suara itu gema dari labor atas yang sedang direnovasi walaupun gw gak yakin 100%. Mencoba tetap cool. Gw takut kalo gw cemas nanti sahabat gw gak konsen kerjanya.
“Suara-suara” itu makin sering frekuensinya. Teman gw bilang kayaknya dari arah torso. Tapi gak ada apa-apa. Suara-suara itu makin gak jelas sumbernya. Gw bersyukur ada sahabat gw di depan mata gw, jadinya gak takut, bahkan semakin menarik.
Akhirnya gw berinisiatif menyalakan winamp lagu-lagu opick dari laptop teman gw. “Suara-suara” itu lama-lama berkurang. Tadinya gw berfikir mereka jadi tenang. Tapi tiba-tiba “suara-suara” dari ruang biopac makin keras, seperti kursi yang diseret dengan kuat. Makin keras volume winampnya, makin keras juga “suara-suara” itu.
Sahabat gw pun berkomentar, “Ramah ya..”
Gw tersenyum. “Ramah” sekali bahkan. Dan gw bersyukur, sahabat gw masih ada di depan mata gw. Dan akhirnya selesailah kerja sahabat gw. Setelah rapih-rapih, kami memutuskan untuk segera pergi.
Analisa gw, suara itu berasal dari tukang bekerja, analisa teman gw setelah kami ceritakan pengalaman ini, kalo suara itu berasal dari praktikan yang bekerja di laboratorium lantai 3. Cek & ricek, ternyata hari itu bukanlah jadwal praktikum, dan tukang-tukang bekerja di laboratorium paling ujung. Pengalaman menarik bagi gw dan teman gw. Mungkin makhluk yang berbeda dunia itu ingin membuktikan eksistensinya kepada kami di pagi itu.
Senin, 01 Februari 2010
Tukang Ojek
Untuk ke rumahnya dari gang luar ke kompleks rumahnya butuh waktu sekitar 5 menit bila naik ojek atau 15 menit bila menggunakan kaki (=jalan kaki). Tapi berhubung panas yang semakin menggarang, saat itu gw memutuskan naik ojek. Kali ini ojek yang gw naikin lain dari biasanya. Gw kurang kenal wajahnya. Maklumlah, kalo ke tempat uniang siang hari, gw suka naik ojek jadi sedikit hafal wajah-wajah tukangnya.
Saat baru duduk gw sempat menyebutkan nama kompleks rumah uniang. Gw takut bapaknya nyasar nanti karena dari gang itu ada 2 kompleks perumahan yang arahnya berbeda. Si Bapak langsung ngomong sesuatu yang kurang jelas karena dari balik helm. Gw menyimpulkan kalau bapak itu mengerti. Kesimpulan gw semakin mendekati arah benar karena bapak itu memilih jalan yang benar.
Di tengah jalan bapak itu terus berbicara. Gw jadi bingung. Pikir gw saat itu, si bapak nanyain Blok dan nomor rumah uniang. Lantas gw langsung ngomong ke bapak itu alamat rumah uniang selengkap-lengkapnya.
Bapak tersebut terus berbicara, gw bingung.
Ada apa ya dengan si Bapak?
Kebingungan gw terjawab. Ternyata di balik helm tukang ojek itu ada Hp, dan bapak itu sepertinya sedang ngobrol dengan kerabatnya. Waduh, gw merasa kecele, bahas minangnya Tabolok. Berarti dari tadi gw ngomong sendiri.
Masih di tengah jalan, akhirnya selesai juga perbincangan bapak itu dengan HPnya. Setelah itu baru si bapak nanya ke gw, “Kama diak?” (kemana dek?)
Gw cuma bisa senyum miris dan mengulang alamat rumah uniang.
“Tau kan diak dima tampeknyo?” (Tau kan dek dimana rumahnya?)
Oo.. si bapak ternyata gak tau. Kesimpulan gw, bapak ini baru ngojek or kalo ga, daerah sekitar itu bukanlah daerah jajahannya.
Finally, gw menunjukkan jalan yang benar menuju rumah uniang. Sampai depan rumah uniang, saat membayar, gak lupa gw mengucapkan terima-kasih. Si bapak tadi kaget dan membalas ucapan terima-kasih gw dengan ucapan “Eh, iyo. Makasih pak.” Gw jadi tertawa dengar kata-kata bapak ojek tadi mengulang kata-kata gw. Seumur hidup, baru kali itu gw dipanggil bapak.
Gw rasa siang itu adalah siang yang aneh dengan pak ojek yang aneh.



.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)